Khusyu’ secara psikologis menjadi rangkaian perjalanan spiritual dengan berbagai makna mendalam. Khusyu’ erat kaitannya dengan proses jiwa mencerna posisi kita sebagai hamba dengan melibatkan keimanan. Khusyu’ juga menjadi tanda bahwa kita membangun interaksi dengan Sang Pencipta. Jika ditarik dari maknanya, khusyu’ diartikan sebagai sebuah sikap yang terwujud dalam perilaku rendah hati, tunduk, pasrah, diam, takut, membenamkan diri dan patuh hanya kepada Tuhan. Sehingga jika diposisikan berdasarkan maknanya, Khusyu’ adalah sikap yang dibangun dalam interaksi individu dengan Tuhan.
Kajian psikologi khusyu’ tentu tidak lepas dari proses kognisi, emosi, dan perilaku membentuk identitas sebagai manusia beriman. ALLAH SWT diyakini oleh hati sebagai Tuhan yang memiliki kuasa atas perjalanan hidup. Jika Khusyu’ digambarkan sebagai sikap, maka khusyu’ ini yang akan menggerakkan perilaku individu untuk senantiasa mengingat ALLAH SWT dalam segala Tindakan. Khusyu’ kemudian diposisikan sebagai perantara yang menghubungkan interaksi indvidu dengan ALLAH SWT.
Secara prakteknya, khusyu’ perlu diyakini sebagai jalan untuk menghadirkan ALLAH SWT dalam segala aktivitas. Hal ini dapat diupayakan melalui praktek Muraqobah dalan aktivitas sehari-hari. Muraqobah sendiri dalam bahasa sederhananya adalam bentuk kewaspadaan diri bahwa ALLAH SWT selalu “ada” dalam segala aktivitas individu. Kewaspadaan tersebut lahir dari adanya kesadaran untuk selalu mempercayai bahwa ALLAH SWT melihat dan menyaksikan segala apa yang dilakukan selama individu hidup.
Bukan hal mudah untuk meyakini bahwa Sang Pencipta selalu membersamai 24 jam dimanapun individu berada. Perlu penalaran dan kontemplasi yang melibatkan berbagai bukti konkrit. Sama halnya ketika ditanyakan “mengapa individu percaya adanya Tuhan sementara seumur hidup kita tidak pernah melihatnya secara langaung?” Tentu, menjawabnya dengan keyakinan iman yang daya nalar dengan logika pun tidak akan mudah memberikan bukti.
Individu meyakini hadirnya Tuhan melalui ajaran yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadist. Jika semakin mengenal, membenamkan diri, dan memaknai mendalam isi keduanya, maka muraqobah akan mudah untuk dibentuk. Butuh proses dan waktu mencerna untuk kemudian terbentuk kewaspadaan diri dalam wujud Muraqobah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baik sikap khusyu’ maupun muraqobah keduanya adalah ilmu tingkat tinggi yang baru akan dapat dijalankan jika individu melogikakan isi Al-Qur’an dan Hadist melalui cerita riwayat dan sejarah perjalanan Nabi dan Rasul. Kisah tersebut perlu untuk diimajinasikan secara konkrit, dan perlu pembiasaan di dalamnya, serta perlu adanya perwujudan perilaku. Hal ini menjadi alasan mengapa iman perlu untuk diajarkan sepanjang kehidupan manusia, mulai dari anak hingga dewasa. Alasannya karena proses meyakini ALLAH SWT tidak instan dan tidak sebentar. Butuh waktu, bertahap, dan konsisten agar individu menemukan jawaban dari setiap pertanyaan imannya.
Iman yang dibangun dalam masa perkembangan individu menjadi modal untuk membentuk ihsan. Sehingga ihsan ini merupakan jalur yang menghubungkan konsep muraqobah tadi dengan sikap khusyu’. Sederhananya, individu belajar dari membiasakan aktivitas ibadah, kemudian bernalar tentang aktivitas ibadah, memaknai aktivitas ibadah sebagai rutinitas yang menenangkan, hingga iman terbentuk dan ihsan dengan sendirinya melekat dalam perilaku individu. Jika iman dan ihsan telah hadir dalam konsistensi perilaku, maka menjadi jembatan kokoh untuk muraqobah dipahami serta perilaku khusyu’ yang sebenar-benarnya dibentuk.
Kesadaran akan makna khusyu’ dan muraqobah menghadirkan solusi dalam membangun relasi harmonis tidak hanya secara vertikal (individu dengan Tuhan) namun juga dengan memupuk relasi secara horizontal (antar individu). Bagaimana tidak, banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan hadist bahwa perwujudan keimanan tidak hanya meyakini bahwa ALLAH SWT itu selalu ada, namun juga dianjurkan untuk individu menabung amal kebaikan terhadap sesama.
Maka wajarlah dikatakan jika indvidu yang lekat dengan iman dan ihsan ialah individu yang mampu menyeimbangkan relasi habluminAllah dengan hablu minannash. Dianalogikan bentuk segitiga, posisi individu setara dengan individu lain dan pada puncaknya di posisikan ALLAH SWT sebagai Tuhan yang terhubungan pada setiap individu. Jika keseimbangan antara hubungan individu dengan ALLAH swt dan antar individu lain dapat tercapai makan akan membentuk segitiga yang seimbang atau sama sisi. Secara logika, porsi relasi akan seimbang, dan secara iman terbentuk keyakinan untuk berbuat sebaik-baiknya perbuatan dengan sesama manusia melalui praktek muraqobah dan beribadah sebaik-baiknya ibadah kepada ALLAH SWT melalui sikap khusyu’ .